Showing posts with label kultum. Show all posts
Showing posts with label kultum. Show all posts
Istigfar

Istigfar

*ISTIGHFAR*

Imam Ahmad bin Hambal Rahimakumullah (murid Imam Syafi'i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidupnya beliau bercerita;

Suatu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada keperluan.

Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita;
Begitu tiba disana waktu Isya', saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.

Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya; "Kamu mau ngapain  disini, syaikh?."

----------- Penjelasan -------------

Kata "syaikh" bisa dipakai untuk 3 panggilan:
1. bisa untuk orang tua, 2. orang kaya ataupun 3. orang yg berilmu.
Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena marbot taunya sebagai orang tua.

Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.

Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar & ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih & zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tau wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

Imam Ahmad menjawab,  "Saya ingin istirahat, saya musafir."
Kata marbot, "Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid."

Imam Ahmad bercerita,
"Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikuncinya pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid."

Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. "Mau ngapain lagi syaikh?"Kata marbot.
"Mau tidur, saya musafir" kata imam Ahmad.

Lalu marbot berkata;
"Di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh."Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, "saya didorong-dorong sampai jalanan."

Disamping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat & menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi.

Ketika imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh; "Mari syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil."

Kata imam Ahmad, "Baik". Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yg sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau imam Ahmad ngajak bicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil (terus-menerus) melafalkan ISTIGHFAR. "Astaghfirullah"

Saat memberi garam, astaghfirullah, memecah telurastaghfirullah ,  mencampur gandum astaghfirullah . Dia senantiasa mengucapkan istighfar.  Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

Lalu imam Ahmad bertanya, "sudah berapa lama kamu lakukan ini?"

Orang itu menjawab;
"Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan."

Imam Ahmad bertanya;
"Apa hasil dari perbuatanmu ini?"

Orang itu menjawab;
"(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat/keinginan yg saya minta, kecuali PASTI dikabulkan Allah. semua yg saya minta ya Allah...., langsung diwujudkan."

Rasulullah
صلى الله عليه وسلم
pernah bersabda;

"Siapa yg menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yg tidak disangka-sangkanya."

Lalu orang itu melanjutkan, "Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yg belum Allah beri."

Imam Ahmad penasaran lantas bertanya;
"Apa itu?"

Kata orang itu;
"Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan imam Ahmad."

Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, "Allahu Akbar..!  Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan - sampai didorong-dorong oleh marbot masjid - Sampai ke jalanan ternyata karena ISTIGHFARMU."

Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yg didepannya adalah Imam Ahmad.

Ia pun langsung memeluk & mencium tangan Imam Ahmad.

(SUMBER: Kitab Manakib Imam Ahmad)

Wallohu a'lam

Saudaraku & Sahabatku tercinta..... Mulai detik ini - marilah senantiasa kita hiasi lisan kita dengan ISTIGHFAR - kapanpun dan di manapun kita berada.

Jangan biarkan postingan ini terputus,

...dan JANGAN SAMPAI ilmu yang SANGAT PENTING ini TIDAK DI-AMALKAN OLEH MASING-MASING DIRI KITA

Semoga Alloh merohmati kita semua, Aamiin

Misteri Sakaratul Maut

Misteri Sakaratul Maut

*💊💉Assalamualaikum... Mohon maaf sdr2ku yg berbeda keyakinan, saya numpang sampaikan ini hanya utk mengingatkan diri sendiri dan jg kepada sdr2 muslimku...... Permisi yaa....*🙏                  *HASIL SURVEY Ustad KOMARUDIN*
*(Pensiunan RS Islam Jakarta Bagian Kerohanian)*

*"Lafadz LaiIaha ilallah dan Sakaratul Maut"*

*💊💉Survei ini disampaikan dalam sebuah ceramah yang diisi (bukan penceramah kondang dan mahal) tapi oleh ustadz Komarudin pensiunan pegawai RS Islam Jakarta bagian kerohanian*

*💊💉Salah satu kegiatan yang menjadi tanggung jawab beliau adalah membimbing seseorang untuk mengucapkan kalimat  LA ILAHA ILLALLAH di saat sedang Sakaratul Maut*

*💊💉Beliau melakukan survey/ riset kecil2an yang hasilnya sangat mengejutkan sbb :*

*💊💉dari 1.000 orang yang sedang mengalami sakaratul maut, Hanya 7 % saja yang mampu mengucapkan Kalimat  LA ILAHA ILLALLAH*.

*💊💉selebihnya tidak mampu, atau hanya 70 orang saja dari 1.000 orang yang mampu mengucapkan LA ILAHA ILLALLAH. Nauzubillahiminzalik....*

*💊💉Kemudian Ustadz Komarudin ini bertanya kepada pihak keluarga dari 70 orang yang meninggal tersebut*.

*💊💉Apa saja kegiatan sehari-hari almarhum/almarhumah ini semasa hidupnya ❓❓*

*💊💉Ternyata jawaban dari pihak keluarga semua rata2 hampir sama, yaitu:_*

*🕌1. Almarhum/almarhumah ini semasa hidupnya selalu menjaga sholatnya*

*📖2. Selalu membaca Al- Qur'an.*

*💰💴3. Selalu tulus dan ikhlas/ Istiqomah dalam bersedekah, meskipun hanya Rp 5.000 perhari*

*4. Tidak memakan harta dengan cara yang batil*

*👨‍❤‍👨5. Tidak memutus tali silahturrahmi dengan siapapun*.

*Kesimpulan Survey:*

*💊💉Ternyata Perkara mengucapkan kalimat LA ILAHA ILLALLAH  di saat Sakaratul Maut* *bukanlah Perkara yang Mudah dan Sepele, tetapi ternyata sangat sedikit orang yang mampu melakukannya*

*💊💉Semoga Survey ini bermanfaat & bisa kita jadikan* *Muhasabah*,  *serta dapat menjadikan kita ketika dipanggil* *oleh-Nya, termasuk orang-orang yang mendapatkan Husnul Khotimah*

*🤞JANGAN SEPELEKAN......!!!*
*Mari kita persiapkan dengan baik Mulai Sekarang In syaa Allah jika ajal datang menjemput, kita bisa tersenyum dan mengucapkan* *LA ILAHA ILLALLAH dengan Lancar, dan wafat dgn HUSNUL KHOTIMAH.. Aamiin* 🙏😥

*🔮Perbanyak mengucapkan Kalimat "LAA ILAHA ILALLAH"...*

*🔮Kita dzikir sebentar ingat اَللّهُ ...* *"Subhanallah, Walhamdulillah WalailaHa ilallah Allahu-Akbar wa la haula wala quwata illa billahil aliyil adzim”*

*🔮Sebarkan... kamu akan membuat jutaan manusia* *berzikir kepada Allah SWT..*
*Sekecil apapun jk kt tulus ikhlas Allah akn mnilai sbg ibadah..*
آمِّيْنَ آمِّيْنَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
*👏Maaf, jangan putus di anda. Niatkan untuk Ibadah & Syiar tdk sampai 1 menit kok.. monggo di share k ssma muslim..*🙏👍

Macam-macam nafsu menurut Al-Quran

Macam-macam nafsu menurut Al-Quran

Macam-Macam Nafsu Menurut Al-Qur’an
Bacaan Madani  3:42:00 PM  Akhlak , Bacaan Islami 0  Comments

Kata nafsu bahasa berasal dari bahasa Arab, Nafsun (kata mufrad) jama’nya, anfus atau Nufusun dapat diartikkan ruh, nyawa, tubuh dari seseorang, darah, niat, orang dan kehendak atau keinginan (kecenderungan, dorongan) hati yang kuat.

Secara istilah nafsu, adalah laṭhifah/ sesuatu yang lembut pada diri seseorang yang mnimbulkan keinginan seseorang atau dorongan-dorongan hati yang kuat untuk memuaskan kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan jasmani maupun rohani. Misalnya keinginan makan, minum, disanjung dihargai dansebagainya. Karena itu sering disebut dengan hawa nafsu.

Ketika kita menelaah ayat-ayat al-Quran, kita temukan ayat-ayat tersebut menunjukkan berbagai keadaan jiwa manusia dan menamainya dengan nama-nama yang berbeda yang mencerminkan tingkatan kondisi jiwa/nafsu , adapun 3 macam nafsu tersebut sebagai berikut:

1. Nafsu Ammarah.
Diambil dari Ayat al-Qur’an Surat Yusuf: 53

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang." (QS. Yusuf:53)

Nafsu ini memerintahkan seseorang kepada keburukan, dan apabila ia mengajak kepada kebaikan, sesungguhnya di balik kebaikan itu menyimpan maksud yang buruk, maka hasil akhirnya juga buruk. Maka setiap keinginan nafsu harus dicurigai, tidak boleh begitu saja menerima.

2. Nafsu Lawwamah;
Berdasarkan ayat al-Qur’an Surat al-Qiyamah 2 :

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

"Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)." (QS. Al-Qiyamah: 2)

Yang dimaksud dengan an-nafs al-lawwamah adalah jiwa orang Mukmin yang mencelanya di dunia atas kemaksiatan, memandang berat ketaatan, dan memberinya manfaat pada Hari Kiamat. Ketika seseorang memerangi nafsu ini dan ditekan terus supaya nafsu ini ikut kepada suatu yang benar menurut syari’at ,maka seorang pun takkan mampu mengalahkan nafsu ini. Kemudian nafsu ini akan kembali ke pemiliknya dengan dicela-cela dirinya.

3. Nafsu Mutmainnah:
Diambil dari Ayat al-Qur’an Surat Al-Fajr 27-28.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya." (QS Al-Fajr 27-28).

An-Nafs al-muthmainnah adalah yang senang kepada Tuhannya dan ridha terhadap apa yang diridhai-Nya. Disifatinya jiwa itu dengan rādḥiyah (ridha), karena ketenangannya kepada Tuhannya mendatangkan keridhaannya atas apa yang telah menjadi takdir dan qadha.

Dengan demikian, bencana tidak membuatnya marah dan kemaksiatan tidak membuatnya berpaling. Apabila hamba ridha kepada Tuhannya maka Tuhan pun ridha kepadanya. Oleh karena itu, firman-Nya: raḍhiyah (ridha) diikuti dengan firman-Nya: marḍhiyyah (diridhai).

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang pembagian nafsu menurut Al-Qur'an. Sumber Buku Akhlak Kelas XI Aliyah kementerian Agama republik Indonesia, 2015.

Membangun watak welas asih

Membangun watak welas asih

*ONE DAY ONE HADIST*
Senen, 12 Maret 2018 / 24 Jumadis Saniyah 1439

*Membangun Watak Welas Asih*

عن أبي هريرة رضي الله عنه أيضاً قال،أنَّ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم، قَالَ: ((بَينَما رَجُلٌ يَمشي بِطَريقٍ اشْتَدَّ عَلَيهِ العَطَشُ، فَوَجَدَ بِئرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشربَ، ثُمَّ خَرَجَ فإذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يأكُلُ الثَّرَى مِنَ العَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الكَلْبُ مِنَ العَطَشِ مِثلُ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي فَنَزَلَ البِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أمْسَكَهُ بفيهِ حَتَّى رَقِيَ، فَسَقَى الكَلْبَ، فَشَكَرَ الله لَهُ، فَغَفَرَ لَهُ)) قالوا: يَا رَسُول اللهِ، إنَّ لَنَا في البَهَائِمِ أَجْرًا؟ فقَالَ: ((في كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أجْرٌ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. وفي رواية للبخاري: ((فَشَكَرَ اللهُ لَهُ، فَغَفَرَ لَهُ، فأدْخَلَهُ الجَنَّةَ))

Dari Abu Hurairah r.a. lagi bahawasanya Rasulullah sholallohu alaihi wasallam bersabda:
"Pada suatu ketika ada seorang lelaki berjalan di suatu jalan, ia sangat merasa haus, lalu menemukan sebuah sumur, kemudian turun di dalamnya terus minum. Setelah itu ia pun keluarlah. Tiba-tiba ada seekor anjing menghulur-hulurkan lidahnya sambil makan tanah kerana hausnya, Orang itu berkata - dalam hati; "Nescayalah anjing ini telah sampai pada kehausan sebagaimana yang telah sampai padaku tadi." la pun turun lagi ke dalam sumur lalu memenuhi sepatu khufnya dengan air, kemudian memegang sepatu itu pada mulutnya, sehingga ia keluar dari sumur tadi, terus memberi minum pada anjing tersebut. Allah berterima kasih pada orang tadi dan memberikan pengampunan padanya."
Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah sebenarnya kita juga memperoleh pahala dengan sebab memberi - makan minum - pada golongan binatang?" Beliau sholallohu alaihi wasallam menjawab:
"Dalam setiap hati yang basah - maksudnya setiap sesuatu yang hidup yang diberi makan minum - ada pahalanya." (Muttafaq 'alaih)
Dalam sebuah riwayat dari Imam Bukhari disebutkan demikian: "Allah lalu berterima kasih pada orang tersebut, kemudian memberikan pengampunan padanya, lalu memasukkannya ke dalam syurga."

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1- Hadis di atas mengandung suatu anjuran supaya kita semua berbuat baik terhadap segala macam binatang.
2- *Watak roufun rahimun (welas asih) menyebabkan seseorang Diampuni dosanya dan dimasukkan kedalam surgaNya*
3- Maka watak ini( roufun rohimun) harus dibangun, untuk supaya mudah dan ringan berbuat baik kepada sesama bahkan sampai kepada binatang sebagai wasilah untuk mudah mendapatkan ampunan dan dimasukkan ke dalam surgaNya.
4- Dalam ungkapan, *perhatikan fikiranmu maka ia akan menjadi perbuatanmu,* *perhatikan perbuatanmu karena ia akan menjadi kebiasanmu,* *perhatikan kebiasanmu maka ia akan menjadi watakmu,* *perhatikan watakmu maka ia akan menjadi nasibmu.*

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

- Watak baik Rasulullah yang harus ditiru oleh umatnya

بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (At-Taubah: 128)

Berwaspada dalam mengarungi kehidupan

Berwaspada dalam mengarungi kehidupan

**PENGHAYATAN HADIS**

BERWASPADA DALAM MENGHARUNGI KEHIDUPAN

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ خَطَبَنَا عُمَرُ بِالْجَابِيَةِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قُمْتُ فِيكُمْ كَمَقَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِينَا فَقَالَ أُوصِيكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَفْشُو الْكَذِبُ حَتَّى يَحْلِفَ الرَّجُلُ وَلَا يُسْتَحْلَفُ وَيَشْهَدَ الشَّاهِدُ وَلَا يُسْتَشْهَدُ أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمْ الْجَمَاعَةَ مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكُمْ الْمُؤْمِنُ

Dari Ibnu 'Umar RA dia berkata; Suatu ketika Umar menyampaikan pidato kepada kami di Jabiyyah (sebuah kampong). Katanya: "Wahai sekalian manusia, aku berdiri di hadapan kalian sebagaimana berdirinya Rasulullah SAW dihadapan kami, dan baginda telah bersabda: 'Aku berpesan kepada kalian dengan (melalui) para sahabatku kemudian orang-orang setelah mereka dan orang-orang yang datang lagi setelah mereka. Kemudian tersebarlah kedustaan, sehingga seseorang bersumpah tanpa diminta untuk bersumpah, kemudian seseorang memberi kesaksian padahal ia tidak diminta untuk menjadi saksi. Ingatlah, jangan berdua-duaan antara  seorang laki-laki  dengan seorang wanita, kerana yang ketiganya turut bersama adalah syaitan. Perlulah kamu selalu bersama Jamaah. Janganlah kalian berpecah belah, kerana syaitan itu selalu bersama dengan orang yang sendirian, sedangkan terhadap dua orang, ia jauh lebih baik (berjemaah). Barangsiapa yang menginginkan kemewahan syurga, maka hendaklah ia berjamaah. Barangsiapa merasa gembira dengan  kebajikannya yang ia lakukan, dan berasa tidak senang dengan keburukan atau kejahatannya, maka dia adalah seorang mukmin.' (HR Tirmidzi No: 2091) Status: Hadis Hasan Sahih

Pengajaran:

1.  Rasulullah SAW berpesan akan datang suatu zaman dimana berleluasa orang yang suka bersumpah walaupun tanpa diminta hanya semata-mata untuk membenar dan membuktikan kebenaran sesuatu perkara supaya orang memberi kepercayaan kepadanya walaupun ia merupakan sumpah palsu.

2.  Rasulullah SAW berpesan akan datang suatu zaman dimana berleluasa orang yang suka memberi kesaksian padahal ia tidak diminta untuk menjadi saksi walaupun sebagai saksi palsu hanya kerana kepentingan peribadi.

3.  Rasulullah SAW melarang perbuatan khalwat atau berdua-duaan yang berlaku antara seorang lelaki dan wanita yang bukan mahram yang boleh mendatangkan syak wasangka serta maksiat.

4.  Rasulullah SAW mengarahkan kita agar sentiasa hidup berjamaah, saling berukhuwah, tolong menolong dan bantu membantu, saling nasihat menasihati kearah mewujudkan kehidupan yang sejahtera dan Negara Rahmah.

5.  Kita dilarang hidup dengan mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain.

6.  Barangsiapa merasa gembira dengan  kebajikan yang ia lakukan, dan berasa tidak senang dengan keburukan atau kejahatannya, maka dia adalah seorang mukmin

Hukum shalawat di iringi rebana

Hukum shalawat di iringi rebana

Hukum Shalawat Diiringi Rebana

By Ustadz Ammi Nur Baits -

Apr 6, 2011

10569

Pertanyaan:

Saya ingin menanyakan masalah amaliah yang membingungkan, yaitu masalah shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apakah shalawat ini banyak macamnya?Bagaimana cara mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan sunnah Rasulullah? Apakah dilakukan sendiri atau berjamaah, dengan suara keras atau sirr (pelan)?Bolehkah sambil diiringi rebana (alat musik)?

Jawaban:

Alhamdulillah, sebelum menjawab pertanyaan saudara, kami ingin menyampaikan, bahwa amal ibadah akan diterima oleh Allah jika memenuhi syarat-syarat diterimanya ibadah. Yaitu ibadah itu dilakukan oleh orang yang beriman, dengan ikhlas dan sesuai Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi pada zaman ini, alangkah banyaknya orang yang tidak mempedulikan syarat-syarat di atas. Maka, pertanyaan yang saudara ajukan ini merupakan suatu langkah kepedulian terhadap Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah selalu memberi taufiq kepada kita di atas jalan yang lurus.

Perlu kami sampaikan, bahwasanya shalawat kepada Nabi merupakan salah satu bentuk ibadah yang agung. Tetapi, banyak sekali penyimpangan dan bid’ah yang dilakukan banyak orang seputar shalawat Nabi. Berikut ini jawaban kami terhadap pertanyaan saudara.

1. Shalawat Nabi memang banyak macamnya. Namun, secara global dapat dibagi menjadi dua.

Pertama, Shalawat yang disyariatkan. Yaitu shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabatnya.

Bentuk shalawat ini ada beberapa macam. Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shifat Shalat Nabi menyebutkan ada tujuh bentuk shalawat dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ustadz Abdul Hakim bin Amir bin Abdat hafizhahullah di dalam kitab beliau Sifat Shalawat dan Salam membawakan delapan riwayat tentang sifat shalawat Nabi.

Di antara bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah

اللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى) آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ (فِي رِوَايَـةٍ: وَ بَارِكْ) عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى) آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

(Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim, inna-Ka Hamidum Majid. Allahumma barik (dalam satu riwayat, wa barik, tanpa Allahumma) ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama brakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, inna-Ka Hamiidum Majid).

“Ya Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya. Lihat Shifat Shalat Nabi, hal. 165-166, karya Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif).

Dan termasuk shalawat yang disayariatkan, yaitu shalawat yang biasa diucapkan dan ditulis oleh Salafush Shalih.

Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al-‘Abbad hafizhahullah berkata, Salafush Shalih, termasuk para ahli hadits, telah biasa menyebut shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebut (nama) beliau, dengan dua bentuk yang ringkas, yaitu:

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

(shallallahu ‘alaihi wa sallam)

dan

عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ

(‘alaihish shalaatu was salaam).

Alhamdulillah, kedua bentuk ini memenuhi kitab-kitab hadits. Bahkan, mereka menulis wasiat-wasiat di dalam karya-karya mereka untuk menjaga hal tersebut dengan bentuk yang sempurna. Yaitu menggabungkan antara shalawat dan permohonan salam atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fadhlush Shalah ‘Alan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hal. 15, karya Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al-‘Abbad).

Kedua, Shalawat yang tidak disyariatkan.

Yaitu shalawat yang datang dari hadits-haditsdha’if (lemah), sangat dha’if, maudhu’ (palsu), atau tidak ada asalnya. Demikian juga shalawat yang dibuat-buat (umumnya oleh Ahli Bid’ah), kemudian mereka tetapkan dengan nama shalawat ini atau shalawat itu. Shalawat seperti ini banyak sekali jumlahnya, bahkan sampai ratusan. Contohnya, berbagai shalawat yang ada dalam kitab Dalailul Khairat Wa Syawariqul Anwar Fi Dzikrish Shalah ‘Ala Nabiyil Mukhtar, karya Al-Jazuli (wafat th. 854 H). Di antara shalawat bid’ah ini ialah shalawat Basyisyiyah, shalawat Nariyah, shalawat Fatih, dan lain-lain. Termasuk musibah, bahwa sebagian shalawat bid’ah itu mengandung kesyirikan (LihatMu’jamul Bida’, hal. 345-346, karya Syaikh Raid bin Shabri bin Abi ‘Ulfah; Fadhlush Shalah ‘Alan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hal. 20-24, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad; Minhaj Al-Firqah An-najiyah, hal. 116-122, karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu; Sifat Shalawat & Salam Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, hal. 72-73, karya Ustadz Abdul hakim bin Amir Abdat).

2. Cara mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

a). Shalawat yang dibaca adalah shalawat yang disyariatkan, karena shalawat termasuk dzikir, dan dzikir termasuk ibadah. Bukan shalawat bid’ah, karena seluruh bid’ah adalah kesesatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir-dzikir dan doa-doa termasuk ibadah-ibadah yang paling utama. Sedangkan ibadah dibangun di atas ittiba’ (mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Tidak seorangpun berhak mensunnahkan dari dzikir-dzikir dan doa-doa yang tidak disunnahkan (oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Lalu menjadikannya sebagai kebiasaan yang rutin, dan orang-orang selalu melaksanakan. Semacam itu termasuk membuat-buat perkara baru dalam agama yang tidak diizinkan Allah. Berbeda dengan doa, yang kadang-kadang seseorang berdoa dengannya dan tidak menjadikannya sebagai sunnah (kebiasaan).” (Dinukil dari Fiqhul Ad’iyah Wal Adzkar, 2/49, karya Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhshin Al-Badr).

b). Memperbanyak membaca shalawat di setiap waktu dan tempat terlebih-lebih pada hari Jumat, atau pada saat disebut nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lain-lain tempat yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّـى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa memohonkan shalawat atasku sekali, Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 408, dari Abu Hurairah).

c). Tidak menentukan jumlah, waktu, tempat, atau cara, yang tidak ditentukan oleh syariat.

Seperti menentukan waktu sebelum beradzan, saat khatib Jumat duduk antara dua khutbah, dan lain-lain.

d). Dilakukan sendiri-sendiri, tidak secara berjamaah.

Karena membaca shalawat termasuk dzikir dan termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sepanjang pengetahuan kami, tidak ada dalil yang membenarkan ber-shalawat dengan berjamaah. Karena, jika dilakukan berjamaah, tentu dibaca dengan keras, dan ini bertentangan dengan adab dzikir yang diperintahkan Allah, yaitu dengan pelan.

e). Dengan suara sirr (pelan), tidak keras.

Karena membaca shalawat termasuk dzikir. Sedangkan di antara adab berdzikir, yaitu dengan suara pelan, kecuali ada dalil yang menunjukkan (harus) diucapkan dengan keras.

Allah berfirman,

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِفْيَةً وَدُونَ الْجَهْرِمِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

“Dan dzikirlah (ingatlah, sebutlah nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Oleh karena itulah, Allah berfirman,

وَدُونَ الْجَهْرِمِنَ الْقَوْلِ

(dan dengan tidak mengeraskan suara), demikianlah, dzikir itu disukai tidak dengan seruan yang keras berlebihan.” (Tafsir Ibnu Katsir).

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ini menunjukkan bahwa meninggikan suara dalam berdzikir (adalah) terlarang.” (Tafsir Al-Qurthubi, 7/355).

Muhammad Ahmad Lauh berkata, “Di antara sifat-sifat dzikir dan shalawat yang disyariatkan, yaitu tidak dengan keras, tidak mengganggu orang lain, atau mengesankan bahwa (Dzat) yang dituju oleh orang yang berdzikir dengan dzikirnya (berada di tempat) jauh, sehingga untuk sampainya membutuhkan dengan mengeraskan suara.” (Taqdisul Asykhas Fi Fikrish Shufi, 1/276, karya Muhammad Ahmad Lauh).

Abu Musa Al-Asy’ari berkata,

لَمَّا غَزَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ أَوْ قَالَ لَمَّا تَوَجَّهَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ النَّاسَ عَلَى وَادَ فَرَفَعُوا اَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيْرِ اللهُ أَكْبْرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لاَ لاَ تَدْعُونَ اَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُوا سَـمِيْعًا قَرِيْيًا وَهُوَ مَعَكُمْ وَأَنَّا خَلْفَ دَابَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَنِي وَأَنَا أَقُولُ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ فَقَالَ لِي يَـا عَبْدَاللهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ فَدَاكَ أَبَـِي وَأُمِّي قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَ بِالله

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi atau menuju Khaibar, orang-orang menaiki lembah, lalu mereka meninggikan suara dengan takbir: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illa Allah. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pelanlah, sesungguhnya kamu tidaklah menyeru kepada yang tuli dan yan tidak ada. Sesungguhnya kamu menyeru (Allah) Yang Maha Mendengar dan Mahadekat, dan Dia bersama kamu (dengan ilmu-Nya, pendengarAn-Nya, penglihatAn-Nya, dan pengawasAn-Nya -pen.).” Dan saya (Abu Musa) di belakang hewan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendengar aku mengatakan, ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah.’ Kemudian beliau bersabda kepadaku, ‘Wahai, Abdullah bin Qais (Abu Musa).’ Aku berkata, ‘Aku sambut panggilanmu, wahai Rasulullah,’ Beliau bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu terhadap satu kalimat, yang merupakan simpanan di antara simpanAn-simpanan surga?’ Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah. Bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah.’” (HR. Bukhari no. 4205; Muslim, no. 2704).

3. Membaca shalawat tidak boleh sambil diiringi rebana (alat musik), karena hal ini termasuk bid’ah. Perbuatan ini mirip dengan kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang-orang Shufi. Mereka membaca qasidah-qasidah atau sya’ir-sya’ir yang dinyanyikan dan diiringi dengna pukulan stik, rebana, atau semacamnya. Mereka menyebutnya dengan istilah sama’ atau taghbiir.

Berikut ini di antara perkataan ulama Ahlus Sunnahyang mengingkari hal tersebut.

Imam asy-Syafi’i berkata, “Di Iraq, aku meninggalkan sesuatu yang dinamakan taghbiir (sejenis syair berisi anjuran untuk zuhud di dunia yang dinyanyikan oleh orang-orang Shufi dan sebagian hadirin memukul-mukulkan kayu pada bantal atau kulit sesuai dengan irama lagunya). (Yaitu) perkara baru yang diada-adakan oleh Zanadiqah (orang-orang zindiq; menyimpang), mereka menghalangi manusia dari Al-Quran.” (Riwayat Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis; Al-Khalal dalam Amar Ma’ruf, hal. 36; dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 9/146. Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hal. 163).

Imam Ahmad ditanya tentang taghbiir, beliau menjawab, “Bid’ah.” (Riwayat Al-Khallal. Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hal. 163).

Imam ath-Thurthusi tokoh ulama Malikiyah dari kota Qurthubah (wafat 520 H); beliau ditanya tentang sekelompok orang (yaitu orang-orang Shufi) di suatu tempat yang membaca Al-Quran, lalu seseorang di antara mereka menyanyikan syair, kemudian mereka menari dan beroyang. Mereka memukul rebana dan meminkan seruling. Apakah menghadiri mereka itu halal atau tidak? (Ditanya seperti itu) beliau menjawab, “Jalan orang-orang Shufi adalah batil dan sesat. Islam itu hanyalah kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Adapun menari dan pura-pura menampakkan cinta (kepada Allah), maka yang pertama kali mengada-adakan adalah kawAn-kawan Samiri (pada zaman Nabi Musa). Yaitu ketika Samiri membuatkan patung anak sapi yang bisa bersuara untuk mereka, lalu mereka datang menari di sekitarnya dan berpura-pura menampakkan cinta (kepada Allah). Tarian itu adalah agama orang-orang kafir dan para penyembah anak sapi. Adapun majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya penuh ketenangan, seolah-olah di atas kepala mereka dihinggapi burung. Maka, seharusnya penguasa dan wakil-wakilnya melarang mereka menghadiri masjid-masjid dan lainnya (untuk menyanyi dan menari -pen.) Dan bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidaklah halal menghadiri mereka. Tidak halal membantu mereka melakukan kebatilan. Demikian ini jalan yang ditempuh (Imam) Malik, asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad dan lainnya dari kalangan imam-iumam kaum muslimin.” (Dinukil dari kitabTahrim Alat ath-Tharb, hlm. 168-169).

Imam Al-Hafizh Ibnu Ash-Shalaah, imam terkenal penulis kitab Muqaddimah ‘Ulumil Hadits (wafat tahun 643 H); beliau ditanya tentang orang-orang yang menghalalkan nyanyian dengan rebana dan seruling, dengan tarian dan tepuk-tangan. Dan mereka menganggapnya sebagai perkara halal dan qurbah (perkara yang mendekatkan diri kepada Allah), bahkan (katanya sebagai) ibadah yang paling utama. Maka beliau menjawab, “Mereka telah berdusta atas nama Allah Ta’ala. Dengan pendapat tersebut, mereka telah mengiringi orang-orang kebatinan yang menyimpang. Mereka juga menyelisihi ijma’. Barangsiapa yang menyelisihiijma’, (ia) terkena ancaman firman Allah,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia keadalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.”(QS. An-Nisa: 115). (Fatawa Ibnu ash-Shalah, 300-301. Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hal. 169).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan telah diketahui secara pasti dari agama Islam, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salalm tidak mensyariatkan kepada orang-orang shalih dan para ahli ibadah dari umat beliau, agar mereka berkumpul dan mendengarkan bait-bait yang dilagukan dengan tepuk-tangan, atau pukulan dengan kayu (stik), atau rebana. Sebagaimana beliau tidak membolehkan bagi seorangpun untuk tidak mengikuti beliau, atau tidak mengikuti apa yang ada pada Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Beliau tidak membolehkan, baik dalam perkara batin, perkara lahir, untuk orang awam, atau untuk orang tertentu.” (Mahmu’ Fatawa, 11/565. Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hal. 165).

demikianlah penjelasan kami, semoga menghilangkan kebingungan saudara.
Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, washalatu wassalaamu ‘ala Muhammad wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in.

Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi 12 Tahun VII, 1424 H – 2003 M
Dipublikasikan oleh www.KonsultasiSyariah.com dengan pengubahan tata bahasa seperlunya.
Artikel www.konsultasisyariah.com

Memetik pelajaran dari do'a orang-orang berilmu

Memetik pelajaran dari do'a orang-orang berilmu

Embun pagi kesiangan :

MEMETIK PELAJARAN DARI DO'A ORANG-ORANG BERILMU

Berikut ini adalah doa dari orang-orang berilmu yang diabadikan oleh Al-Qur’an,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS.Ali ‘Imran:8)

Dan makna dari doa ini adalah :

1. Ya Allah kokohkan ibadah kami kepada-Mu dan jangan Kau jadikan hati kami condong kepada selain-Mu.

2. Seakan pengaruh untuk condong kepada selain Allah bukanlah sesuatu yang murni dari dalam hati. Karena fitrah manusia yang bersih tidak pernah ragu untuk selalu menuju kepada-Nya.

Namun hawa nafsu lah yang menyebabkan hati ini condong kepada selain Allah.

3. Allah tidak pernah menyesatkan hati hamba-Nya, namun karena mereka memilih untuk cenderung kepada kesesatan maka Allah memalingkan hati mereka.

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (QS.Ash-Shaf:5)

Dalam ayat lainnya Allah berfirman,

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu.” (QS.Al-Baqarah:10)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman,

ثُمَّ انْصَرَفُوا ۚ صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

“Setelah itu mereka pun pergi. Allah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak memahami.” (QS.At-Taubah:127)

Disaat kita berusaha untuk dekat kepada Allah, maka Allah akan membuka jalan kemudahan agar kita semakin dekat kepada-Nya. Begitu pula bila kita lebih memilih untuk berpaling dari-Nya maka Allah akan mempersilahkan kita untuk berpaling.

Semoga Allah menguatkan hati kita dijalan-Nya…Aamiin...

Lisan Ibu

Lisan Ibu

*"LISAN IBU"*

Ketika seorang wanita sudah menjadi *IBU,* maka *ALLAH* akan menganugerahkan kepadanya satu senjata yang sangat ampuh di muka bumi..

*"Tahukah apa itu?"*
Itu adalah Lisannya..

Lisannya akan menjadi *Berat timbangannya*..
Lisannya akan menjadi *pembuka pintu-pintu langit*..
Ucapannya akan *diijabah.. Doanya akan melesat tanpa penghalang*..

Doa ibu akan mampu menjadi *penghancur kesulitan bagi anak keturunannya*..
Dan mengeluhnya seorang ibu akan menjadi *pemberat langkah setiap anggota keluarganya, termasuk bagi suaminya*..

Maka pantang bagi seorang ibu untuk *mengeluh,* karena keluhannya pun akan menjadi kenyataan, *sebagaimana harapan dan doanya* pun akan menjadi kenyataan..
Ucapan buruknya akan menjadi kendala bagi *dirinya dan keluarganya*

Lisan seorang ibu layaknya *mukjizat para nabi.. atau Karomah para kyai*..

Maka berhati-hatilah wahai para ibu ketika Anda menggunakan *senjata terampuh ini*..

Gunakan untuk bermunajat meminta kepada *ALLAH* agar suamimu dimudahkan dalam *mencari nafkah*.. Jangan mengeluhkan tentang dirinya. Itu justru akan *semakin memberatkan*..

Gunakan untuk bermunajat meminta kemudahan dan *Keshalehan  atas   anak-anakmu*,, jangan mengeluhkannya. Karena itu akan menjadi benar adanya..

           *Subhanallah*

Tarbiyah Islam bagi anak

Tarbiyah Islam bagi anak

TARBIYAH ISLAM BAGI ANAK

PRINSIP-PRINSIP DASAR :
1. Anak anakmu bukan pilihanmu, mereka menjadi anak2mu, bukan krn keinginan mereka, tetapi karena Takdir Allah. (QS.28: QS.68,42: QS.49-50).

2. Karena apa yg ALLAH takdirkan untukmu, maka itulah amanah yg harus ditunaikan. (QS.8:27-28).

3. Orang tualah yg ingin memiliki anak ϑάπ keinginanmu adalah janjimu kepada ALLAH. Maka tepatilah janjimu krn akan ALLAH minta pertanggung jawabannya. (QS.5:1, QS.17:34, QS.13:19-24).

4. ALLAH tdk membebanimu melampaui kemampuanmu, maka bersungguh-sungguhlah. (QS.2:233, QS.64:16, QS.3:102, QS.22:78).

5. ALLAH tdk mewajibkanmu membentuk anak-anakmu mahir dalam segala hal, tetapi ALLAH mewajibkanmu membentuk anak-anak yang shalih. (QS.21:205).

6. Jangan berharap kebaikan dari anak2mu, bila tdk mendidik mereka menjadi anak2 yg shalih. (QS.11:46, QS. 19:59).

7. Jangan berharap banyak pada anak2mu, bila kamu tidak mendidik mereka sebagaimana mestinya. (QS.17:24).

8. Didiklah anak-anakmu sesuai Fitrahnya. (QS.30:30).

9. Janganlah menginginkan anak2mu sbg anak2 yg shalih sebelum engkau menjadi shalih lebih dahulu.

10. Janganlah menuntut hakmu dari anak2mu, sebelum engkau memberi hak anak-anakmu.

11. Janganlah engkau menuntut hakmu dari anak-anakmu, sampai engkau memenuhi hak2 ALLAH atas mu. (QS. 2:83, QS. 4:36, QS 6:151, QS. 17: QS. 23-24).

12. Berbuat baiklah pada anak-anakmu, bahkan sebelum mereka diciptakan.

13. Janganlah engkau berpikir tentang hasil akhir dari usahamu mendidik, tetapi bersungguh-sungguhlah dalam mendidik. (QS.11:93).

14. Janganlah berhenti mendidik sampai kematian memisahkanmu. (QS.15:99).

Baarakallahu fiikum moga menjadikan qt sll ingat dan mampu laksanakan amanah ini amin

Berkawan dengan orang shalih

Berkawan dengan orang shalih

⁉🌴Berkawan Dengan Orang Shalih🌴⁉

📌Luqman Al-Hakim berkata kepada anaknya ;

يا بُني، جالس الصالحين فإنك تصيب من محاسنهم خيرًا، ولعله أن يكون آخر ذلك أن تنزل عليهم الرحمة فتصيبك معهم،

يا بُني، لا تجالس الأشرار؛ فإنك لا تصيب من مجالستهم خيرًا، ولعله أن يكون في آخر ذلك أن تنزل عليهم عقوبة فتصيبك معهم.

🌾"Wahai anakku duduklah engkau bersma dengan orang-orang shalih. Sesungguhnya engkau akan bisa mengambil kebaikan dari mereka.

🌧Dan barangkali dampak akhirnya rahmat turun kepada mereka sehingga engkau pun ikut mendapatkannya.

🍄Wahai anakku  janganlah engkau duduk dengan orang-orang yang jahat. Sesungguhnya engkau tidak bisa mendapatkan kebaikan dari mereka.

🔥Dan barangkali dampak akhirnya, azab turun kepada mereka sehingga engkaupun akan ikut terkena azab bersama mereka."

📚Az-Zuhdu : 89 oleh Imam Ahmad Bin Hanbal.

✍🏻Ustadz Abul Aswad Al Bayaty

 
Other Site : Yanstores big Stores | Sports and Outdoors Appareal
Copyright © 2013. Zulfa Jilbab Grosir - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger